Sabtu, 28 Januari 2012

Rangkuman Buku Samudra Al FATHAH


Isi buku Samudra Al Fatihah cukup menarik karena menguraikan kandungan isi dari Surah Al Fatihah secara dalam dengan disertai surah-surah Al Quran dan hadist-hadist (cerita Nabi Muhammad s.a.w) yang menguatkan. Dengan membaca buku ini kita (pembaca) dibawa untuk menjelajahi samudra Al Fatihah yang maha dalam dan maha luas. Dengan harapan dapat menambah iman dan khusyu’ kita terhadap semua persoalan yang dikandungnya. Mengapa Surah Al Fatihah? Kita mengetahui bahwa belum sah sholat seseorang jika belum membaca surah Al Fatihah. Tentunya hal ini menyiratkan betapa agung dan hebatnya isi dari surah al Fatihah. Diterangkan dalam buku ini bahwa Al Fatehah merupakan kesimpulan dari seluruh isi Al Quran atau kesimpulan dari seluruh kitab-kitab suci atau kesimpulan dari ajaran semua agama yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Sebab itu pula , Surah ini dinamakan Al Fatihah (pembuka), atau ummul kitab (Induk Kitab).

Keistimewaan surah Al Fatihah
Paling Besar (A’zham)
”Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: Ya Rasulullah, Engkau mengatakan akan mengajarkan kepadaku sebesar-besarnya surah dalam Al Quran?”. Berkata Rasulullah saw: ya, Alhamdulillahi Rabbil Aalamin (dan seterusnya), 7 ayat yang berulang-ulang, dan itulah al Quran al Azhiim yang telah disampaikan kepadaku.” (dirawayatkan leh Al Bukhari, Abu Dawud, an Nasa’i, Ibnu Majah dan al Waqidi dari berbagai sumber)

Tak ada samanya dalam Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran.
Diriwayatkan dari Ali Bin Abu Talib r.a bahwa Rasulullah s.a.w berkata
”Siapa yang membaca Faithatul-Kitab (al Fatihah), maka seakan-akan dia telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan al Furqan (Al Quran)”

Hanya kepada Muhammad s.a.w diturunkan
Diriwayatkan oleh Muslim dan an Nasa’i, dari ibnu Abbas r.a. katanya ”Jibril berkata kepada Muhammad s.a.w, pada saat beliau mendengar suatu bunyi dari atas: ”Bahwa telah terbuka sebuah pintu di langit dan tak pernah pintu itu terbuka sebelum ini, dari pintu itu turunlah seorang Malaikat dan langsung menuju kepada Rasulullah dan berkata” Bergembiralah engkau Muhammad mendapat 2 cahaya yang tak pernah kedua cahaya itu diberikan kepada Nabi yang manapun sebelum engkau, kedua cahaya itu adalah Fatihatul Kitab dan beberapa ayat di akhir Surah Al Baqarah, setiap huruf engkau baca dari keduanya pasti engkau mendapatkannya”

Langsung mendapat jawaban dari Allah swt.
”Siapa yang membaca Surah Al Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah” (diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Aman dari Segala Bahaya
Diriwayatkan oleh al Buzar dari Anas r.a. : Berkata Rasulullah s.a.w: ”Bila engkau baca al Fatihah dan Qul Huwwallahu Ahad maka amanlah engkau dari segala sesuatu, kecuali dari maut”

Langsung dari Arasy
Dirawayatkan oleh al Hakim di dalam al Mustadrak dari Ma’qal bin Yasaar r.a.: Telah berkata Rasulullah s.a.w: ”Amalkanlah segala apa yang tersebut di dalam Al Quran, halalkanlah apa yang dihalalkannya, haramkanlah apa yang diharamkannya, dan patuhilah ia, jangan sekali-kali engkau ingkari dan ragukan, ... sesungguhnya al Quran itu Pemberi Syafaat, sesuatu yang tak pandai bicara tetapi membawa kebenaran dan kepadaku diberikan Allah surah Al Baqarah dari Zikir Pertama .... dan diberikan kepadaku Surah Al Fatihah langsung dari Arasy

arti kata Arasy menurut istilah bahasa adalah singgasana raja. (yakni Allah Yang Maha Penyayang).

Sebagai obat
”Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, dan penawar obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

” Dan kami turunkan dari Al Quran sesuatu yang jadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan bagi orang-orang yang zhalim tetap merugi” (Al Isra: 82)

”Katakanlah al Quran itu sebagai petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang yang beriman (Fusshilat: 44)

Keutamaan Basmalah (Bismillaahir Rahmaanir Rahiim)

Didalamnya terdapat 3 Nama yang terbesar dari Nama-Nama Allah yaitu:
Allah, Ar Rahmaan dan Ar Rahiim, karena itu Rasulullah s.a.w menamakan al Ismul A’zham yaitu Nama Teragung dari Allah s.w.t.

Dalam buku ini banyak sekali riwayat Nabi yang membahas keutamaan membaca Basmalah, diataranya:

Diriwayatkan oleh Imam Abdur Rahman bin Abu Hatim, berasal dari Ibnu Abbas, bahwa Usman bin Affan bertanya kepada Rasullullah tentang kalimah basmalah, lalu Rasulullah s.a.w menjawab:”Ia adalah salah satu dari nama-nama Allah. Begitu dekatnya Bismillah ini dengan Nama Allah yang Teragung seperti dekatnya biji mata hitam dengan biji mata yang putih.” Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang berasal dari Abu Buraidah bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: ”Diturunkan kepadaku satu ayat yang tak pernah diturunkan kepada salah seorang Nabi, selain Nabi Sulaiman bin Dawud dan saya sendiri, yaitu ayat Bismillahir Rahmaanir Rahiim” Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan, sabda Rasulullah s.a.w:
”Setiap pekerjaan (urusan) yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut: Bismillaahir Rahmaanir-Rahiim, maka pekerjaan (urusan) itu akan pincang”

Tafsir Alhamdulillahir Rabbil Al Amiin (ayat ke 1 dalam surah Al Fatihah)

Al’aalamiin (Alam Semesta)
Sehebat apapun ilmu pengetahuan yang telah dicapai manusia saat ini, namun masih sedikit sekali dibandingkan dengan besar dan luasnya alam semesta raya.

Firman Allah : ”Dan tidaklah diberikan pengetahuan kepada kamu kecuali sedikit.” (al Isra: 85).
”Katakanlah (hai Muhammad), bahwa sesungguhnya pengetahuan (yang sempurna) hanya pada Allah, sedang aku ini hanya pemberi peringatan yang nyata.” (al Mulk:26)
Begitu sedikit pengetahuan manusia tentang alam semesta ini, lebih sedikit lagi pengetahuan manusia tentang akhira. Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada salah seorang sahabat:”Bila engkau masukkan sebelah tanganmu ke dalam laut, lalu engkau angkatlah tangan itu kembali, maka ari yang melekat pada tangan itulah pengetahuan dunia, dan air laut yang tertinggal di samudera ialah pengetahuan tentang akhirat”. Didalam buku ini banyak diceritakan bagaimana indah dan luasnya alam semesta alam raya ini, terlebih keindahan alam di malam yang terang dan cerah. Dijelaskan dalam surat Al Quran mengenai hal ini, seperti Al Mulk:1-5, al Waqi’ah:75-76, al Mu’min:57 dan masih banyak lagi. Kekaguman kita terhadap kehebatan dan kebesaran alam semesta, dan kemudian akan lebih kagum lagi terhadap kehebatan dan kebesaran Allah yang menciptakannya. Dalam surat al Kahfi: 109: ”Sekiranya laut dijadikan tinta untuk menuliskan kalimah-kalimah Allah, sungguh akan keringlah lautan sebelum habis kalimah-kalimah Allah, sekalipun ditambah sebanyak itu lagi.”

Rabbil’Aalamiin

Firman Allah: ”Sesungguhnya di dalam pergiliran malam dan siang, dan kapal-kapal yang berlayar di atas samudera membawa apa-apa yang berguna bagi manusia dan apa-apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, sehingga dengan air itu menjadi hiduplah bumi yang mulanya mati, lalu hidup berkeliaran di atasnya segala macam binatang, berhembusnya angin dan awan antara langit dan bumi, semua itu adalah menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal (berfikir) .” (Al Baqarah:164).
Jadi seluruh kejadian dibumi ini, disamping diambil manfaatnya untuk hidup, dapat pula dijadikan bukti dan tanda tentang wujud kekuasaan dan kemurahan Allah, untuk pendorong agar kita selamanya hidup di dalam mengingat Allah, mensyukuri nikmat Allah dan mentaati segala perintah Allah.

Alhamdulillah
Ucapan atau kalimah yang menunjukkan rasa syukur terimakasih, kasih sayang, cinta, hormat, khidmat, lega dan bangga terhadap Allah. . Dari segala macam bentuk susunan kalimah yang berisi pujaan dan pujian yang dihadapkan manusia kepada Allah, Allah memilih satu yang paling Allah senangi, nyaitu Alhamdulillahi Rabbil ’aalamiin.

Sabda Rasulullah s.a.w:
” Zikir paling utama ialah kalimah laa Ilaaha Illallaah, dan doa paling utama ialah kalimah Alhamdulillaahi”
Kalimah hamdalah berarti berdoa. Syaratnya ialah agar hati setiap orang yang menyebutnya harus ingat dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan dan mendengarkannya.

Diriwayatkan oleh Imam al Qurthuby di dalam tafsiran dan di dalam kitab Nawadirul Ushul, dari Anas r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: ”Sekiranya dunia dan seluruh harta kekayaan yang berada di atasnya diserahkan ke tangan seorang dari umatku, lalu orang itu berkata: ”Alhamdulillah”, sungguh ucapan ”Alhamdulillah” itu lebih berharga dari seluruh harta kekayaan itu.”

Tafsir ar Rahmaan ar Rahiim (ayat ke 2 dalam surah Al Fatihah)

Rahim atau Rahmat mempunyai arti yang sama yaitu: pemberi Rahmat atau Maha Pengasih, Maha Penyayang.




Rahmat Alam
Diterangkan oleh banyak surah-surah dalam Al Quran, beberapanya antara lain:
Firman Allah:”Dan kami jadikan dari tiap-tiap sesuatu yang hidup, apakah kamu tetap tidak mau beriman?” (al Anbiya:30)
”Engkau lihat bumi itu kering tetapi apabila Kami turunkan atasnya air, lalu ia menjadi mekar dan segar (lunak dan subur), dan dapat menumbuhkan bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang menarik hati.” (al Haj:5).

Segala sesuatu tentang alam yang luas ini, kita akan kagum memikirkan kebesaran dan kebijaksanaan Allah yang menciptakan dan mengaturnya. (Dalam surah al A’raf:53, al Mu’minun:14)

Rahmat Kesehatan Jasmani dan Rohani

Selain nikmat alam semesta, rahmat Allah yang sangat bernilai adalah kesehatan jasmani dan rohani. Sabda Rasulullah s.a.w:”Siapa yang sehat badannya, senang hatinya (sehat rohaninya), dirumahnya ada makanan buat sehari, maka seakan-akan seluruh dunia ini berada dalam genggamannya.”Mintalah kepada Allah akan keyakinan (agama yang benar) dan kesehatan, karena sesungungnya tidak ada sesuatu sesudah keyakinan yang lebih berharga daripada kesehatan”.

Rahmat Islam dan Iman

Rahmat terbesar yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Sungguh beruntung sekali orang yang telah menerima dan merasa memiliki Islam dan Iman itu di dadanya.
Sabda Rasulullah s.a.w: ”Beruntung orang yang telah meilhat akan Aku dan beriman dengan Aku, dan beruntung, beruntung, beruntung orang yang tidak melihat akan Aku tetapi beriman kepada Aku.”
Dijelaskan pula dalam surah al Baqarah 132-136 dan 140, tentang hal ini.

Rahmat Akhirat

Seluruh rahmat dan nikmat yang dituangkan Allah di permukaan bumi ini adalah sebahagian kecil dari rahmat Allah yang amat besar.”
Firman Allah:”Katakanlah (hai Muhammad): Harta benda (kesenangan) dunia ini sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang taqwa, dimana mereka tidak akan dianiaya (dirugikan) sekalipun sedikit.” (an Nisa:77)

Sabda Rasulullah s.a.w: ”Sejelek-jelek kedudukan manusia pada sisi Allah di hari kiamat ialah seorang yang mengorbankan akhiratnya untuk dunia lainnya”.

Ar Rahmaan berarti Allah Pemegang Kunci Rahmat Dunia , Ar Rahiim berarti Allah Pemegang Kunci Rahmat Akhirat. Menurut Hadis, Rasulullah s.a.w apabila berdoa paling sering menyeru dengan seruan: Ya Rahmaan Ya Rahiim.






Tafsir Maaliki Yawmiddin (ayat ke 3 dalam surah Al Fatihah)
Yang memiliki Hari Pembalasan”.

Dalam banyak ayat Al Quran dan Hadis, Allah dan RasulNya menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang amat kecil artinya, amat terbatas waktunya. Penghidupan di dunia ini adalah ibarat setetes air, sedang penghidupan Akhirat adalah ibarat samudra luas.
Dalam buku Samudra Al Fatihah (Bey Arifin), bab ini menjelaskan bahwa hal yang paling menakjubkan pada manusia, bukanlah jasmani atau tubuhnya tetapi rohaninya. Namun segala sesuatu yang gaib yang diciptakan oleh Allah hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. ”Mereka bertanya kepada engkau tentang Roh. Katakanlah: Roh itu adalah rahasia Tuhanku. Dan tidaklah diberikan ilmu pengetahuan kepadamu kecuali sedikit saja.” (al Isra:85) Tetapi kita sebagai orang yang ber Iman, harus percaya bahwa ada kehidupan sesudah mati, kehidupan kekal dan abadi roh manusia di alam barzakh dan alam akhirat.

Pesan yang disampaikan adalah: Hindarkan dirimu dari sesal kemudian yang tak berguna.
Dijelaskan dalam Kitab suci al Quran dan Hadis Nabi Muhammad s.a.w. Diantaranya: Surah as Sajdah 11-12 dan Surah az Zumar 58-59. Untuk menghindarkan diri dari sesalan yang berkepanjangan, dalam surah az Zumar 54-55 dijelaskan: Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada Nya sebelum datang kepadamu azab itu, kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi (54). Turutlah sebaik-baiknya (agama) yang diturunkan kepadamu dari Tuhan kamu, sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak sadar (55).

Dalam bab ini (Buku Samudra Al Fatihah oleh Bey Arifin), Penulis juga menjelaskan secara detail, tentang tahapan-tahapan kehidupan setelah mati disertai kajian yang tertuang dalam Al Quran dan Hadis. Dan dalam kesimpulan bab ini, diuraikan tentang surah Al Waqi’ah tentang kejadian besar yaitu Kejadian Kiamat. Diterangkan pula dalam hadis, bahwa bagi siapa yang sering membaca surah ini akan mengakibatkan ketenangan hati dan jiwa menghadapi segala kemungkinan dalam hidup dan mati.

Tafsir Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’iin (ayat ke 4 dalam surah Al Fatihah)
Engkaulah yang kami sembah dan Engkaulah yang kami minta pertolongan

Diterangkan dalam buku ini bahwa Al Fatihah terdiri dari 7 ayat. Ayat ini terletak persis ditengah. Tiga ayat sebelumnya untuk Allah, sedangkan tiga ayat sesudahnya untuk manusia (Hamba Allah).

Iyyaka Na’budu artinya: Engkaulah yang kami sembah. Hanya untuk engkau sajalah kami beribadah. Tidak ada selain Engkau yang kami sembah, yang kami puja.

Iyyaka Nasta’iin artinya: Engkaulah yang kami mintai pertolongan. Hanya kepada Engkau sajalah kami minta bantuan, perlindungan, mohon rejeki, mohon keselamatan dll.


Ayat ini mengandung 2 persoalan pokok yaitu Ibadah dan Do’a.
Ibadah terhimpun dalam 2 hal yaitu Cinta (hubb) dan Tunduk (Khudhu). Dan cinta serta tunduk ditujukan hanya kepada satu zat yaitu Allah semata. Ini yang dinamakan Tauhid.
” Bila kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab: Allah” (ad Dukhan: 87)

Berdoa (Isti’anah) terhimpun dalam 2 hal yaitu: berserah diri (tsiqah) dan menggantungkan harapan (i’timad). Dan 2 hal ini tercakup dalam satu kata yaitu Tawakal. Tawakal inilah yang menjadi pengertian yang sedalam-dalamnya dari ayat ”iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”. Dijelaskan tentang hal ini dalam Al Quran surah: Hud:88, 123 dan al Mumtahanah:4 dan 8-9

Tafsir Ihdinash-shiraathal-mustaqiim (ayat ke 5 dalam surat Al Fatihah)
Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.

Shiraathal-Mustaqiim artinya jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang membawa kepada kebahagiaan dan keberuntungan, di dalam hidup di dunia dan lebih-lebih di dalam hidup di akhirat nanti. Rasulullah s.a.w menasehatkan kepada ummat beliau, agar sebanyak-banyaknya minta pertolongan atau berdoa kepada Allah. Mintalah kepada Allah segala perkara dari yang besar hingga yang sekecil-kecilnya. Diantara berjuta-juta perkara besar dan kecil yang kita butuhkan maka Shiraathal mustaqiim adalah yang paling penting, paling besar dan paling mahal harganya dalam hidup manusia di dunia ini. Allah berfirman dalam surat terakhir an Naba:”Kami memperingatkan kamu akan kesengsaraan yang sudah dekat waktunya, di hari manusia akan melihat segala kesalahan yang pernah dilakukan dan orang kafir akan mengeluh: Alangkah baiknya kalau aku dahulunya menjadi tanah saja.” Sebab itu hal yang pertama kita mohon dan minta kepada Allah adalah agar kita ditunjuki jalan yang lurus, benar, kepercayaan dan agama yang benar.

Tafsir Shiraathal-ladzina An’amta ’Alaihim (ayat ke 6 dalam surat Al Fatihah)
Yaitu jalan orang-orang yang engkau beri nikmat atas mereka

Ditegaskan dalam ayat ini, yang dimaksud Allah jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh, dijalani atau digariskan oleh orang-orang yang telah mendapat nikmat dari Allah.

Orang-orang yang mendapat nikmat yang dimaksud adalah Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, atau orang yang bukan Nabi dan Rasul, tetapi mempunyai kepercayaan yang sama dengan pendapat atau kepercayaan Nabi dan Rasul.

Firman Allah:”Dan sesungguhnya Kami sudah mengutus pada tiap-tiap ummat seorang Rasul (yang memerintahkan/mengajarkan): Hendaklah kamu sembah Allah dan jauhi berhala-berhala. Tetapi di antara mereka manusia ada yang mengikuti petunjuk Allah dan adapula yang tetap atas kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi, lihatlah bagaimana kesudahannya orang-orang yang mendustakan itu.” (an Nahl:36) Manusia yang menerima dan beriman dengan risalah yang dibawa Nabi-Nabi dan Rasul adalah manusia yang paling beruntung dan paling baik. Sedangkan mereka yang tidak percaya adalah manusia yang paling celaka.

Firman Allah:”Sesungguhnya orang-orang Kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tempatnya di neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk.” (al Bayyinah 6). ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan pekerjaan yang baik, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (al Bayyinah 7).

Dalam bab ini, diuraikan tentang perjuangan dan keistimewaan Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad s.a.w dan menegaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul penutup serta syariat dan ajarannya meliputi ajaran seluruh Nabi-Nabi dan Rasul. Kitab suci Al Quran adalah kesimpulan dari seluruh kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad s.a.w

Firman Allah:”Tidaklah Muhammad s.a.w itu bapak seorang dari laki-laki kamu, tetapi ia adalah pesuruh Allah dan penutup segala Nabi.” (al Ahzab:40)

Sabda Rasulullah s.a.w: ”Beruntung orang yang telah melihat akan Aku dan beriman dengan Aku, dan beruntung, beruntung, beruntung orang yang tidak melihat akan Aku tetapi beriman kepada Aku.”

Tafsir Ghairil-maghdhuubi ’Alaihim wa ladh-Dhaalliin (ayat ke 7 dalam surat Al Fatihah)
Bukan mereka yang dimurkai atas mereka dan bukan pula mereka yang sesat

Salah satunya. Surah Al Maidah ayat 60: ” Katakan: Akan kuberitahukan hal yang lebih buruk dari pembalasannya di sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah: diantaranya yang dijadikanNya kera, babi dan penyembah berhala. Mereka itu amat buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. ”

Dalam dalam buku ini dikatakan, yang dimaksud golongan yang dimurkai oleh Allah (mahdhuubi ’Aalaihim) menurut adalah siapa saja yang berbuat keliru, salah dan dusta terhadap Allah dan Kitab-kitab Suci Nya.

Dan golongan sesat (Dhaalliin) adalah siapa saja yang berbuat salah dan keliru dengan tak sadar.


Amin

Menurut sebagian besar ahli tafsir, surah al Fatihah adalah mengandung do’a. Sebab itu Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad s.a.w setiap selesai membacanya agar menyebut amin yang berarti perkenankanlah

Diriwayatkan oleh Imam al Bafhawy dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah s.a.w mengatakan ”Bila Imam selesai menyebut ayat terakhir dalam surah al Fatihah, hendaklah kamu (ma’mum) menyebut amin*, maka sesungguhnya para Malaikat turut menyebut amin. Maka barangsiapa yang tepat aminnya dengan amin para Malaikat itu, maka Allah akan mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang terbelakang.”
*) Ma’mum diperingatkan tidak mendahului Imam dalam meng amin kan bacaan al Fatihah dalam shalat berjamaah.

Rangkuman Buku Tahajud dan Kesehatan


Buku karya DR. Mohammad Sholeh ini salah satu yang saya anggap sebagai buku referensi, perlu dibuka lagi untuk memperoleh insipirasi baru, sekalipun tampilannya mungil dan cocok sebagai buku saku. Ketika diterbitkan tahun 2006, segera saja buku ini menjadi booming dan hal itu menarik perhatian istri saya untuk memiliki bukunya (sementara saat itu saya masih lebih suka mengoleksi buku tentang sejarah Islam dan Al-Qur’an). Namun demikian, segera saja istri saya meletakkan buku itu di lemari dan tidak pernah menyentuhnya lagi. Kenapa? Ternyata buku kecil itu jauh lebih berat daripada penampilannya, karena merupakan bentuk populer dari desertasi doktoral sang pengarang.
Sebelum memasuki muatan buku, profil DR. Moh. Sholeh sendiri sudah sangat menarik. Beliau bukan dokter atau psikolog, bahkan menyelesaikan kuliah S-1 di Jurusan Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Malang. Gelar Masternya adalah pendidikan dari IKIP Malang. Gelar doktor beliau diraih di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, yang merupakan barometer pendidikan kedokteran di Indonesia Timur, di bidang imunologi. Tahun 2004, beliau dikukuhkan sebagai guru besar Psikologi Islam. Hingga sekarang beliau adalah dosen di IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Siapapun yang pernah mengenyam pendidikan tinggi pasti akan terkagum-kagum dengan kemampuan beliau menempuh pendidikan lintas disiplin ilmu, seperti mengingatkan kita pada kecerdasan kaum intelektual masa renaissance seperti Leonardo Da Vinci. Da Vinci terkenal dengan lukisan Monalisanya, tetapi juga seorang engineer dan inventor, sementara itu ia juga diketahui sebagai filsuf religius. Menurut Abu Sangkan, yang menulis pengantar buku ini, kondisi ini dibentuk oleh penguasaan Prof.DR. Moh. Sholeh pada Al-Qur’an.
Menurut Abu Sangkan dalam pengantarnya dalam buku Terapi Salat tahajud ini, orang seperti Moh. Sholeh inilah yang dirindukan oleh dunia Islam, karena mampu menterjemahkan firman Allah menjadi temuan sains yang menakjubkan. Baginya, figur Moh. Sholeh dianggap telah menemukan nurun ‘ala nurin (cahaya maha cahaya) di dalam kandungan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan lagi sekedar dimuati ayat-ayat maha indah dan menggugah rasa ketika dilantunkan, namun juga sarat dengan sumber pengetahuan yang perlu dikaji dan dikupas.
Al-Qur’an sebenarnya mengharapkan dan meminta kita untuk setidaknya 6 hal:
Ø  Iqra’ (bacalah)
Ø  wa-sma’u (dan simaklah)
Ø  afala tatafakkarun (lalu pikirkanlah)
Ø  afala tubshirun (lalu perhatikanlah)
Ø  afala tandhurun (lalu telitilah)
Ø  afala tatadabbarun (lalu ungkapkanlah)

Prof.DR. Moh. Sholeh telah melakukan semuanya hingga beliau menemukan hubungan antara shalat tahajud dengan kesehatan. Al-Qur’an menyebut orang seperti beliau ini Ulul Albab, yaitu orang yang mengingat Allah sabil berdiri, duduk, atau dalam keadaan ebrbaring lalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (Ali Imran 190-191).
Kita tidak pernah mengenal nama besar ilmuwan ini sebelumnya, dan hingga sekarang pun saya yakin banyak yang tidak mengenal benar sosoknya yang rendah hati. Beliau bukan selebritis yang mencoba mencari penghargaan dari sesama manusia, namun berlian yang yang berada di tengah masyarakat dan menjadi mercusuar bagi orang lain. Selain aktif sebagai dosen, beliau juga merupakan terapis psikoneuroimunologi di Surabaya (Masjid Al-Akbar).
Sebelumnya, saya hendak mengajak saya pribadi untuk mendawamkan amalan ini, dan semoga Allah menganugerahkannya amalan ini agar jadi kebutuhan saya dan Anda. Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) yang terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.
Tidak percaya?
Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. "Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker". Beliau melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul 'Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi".
Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya. Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah shalat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi coping).
Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitik beratkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.
Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebali knya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.
Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11 rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.
"Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress." Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik.Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?
Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam)dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam, maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.
Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang di wajibkan oleh Islam.
Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.

Rangkuman Buku Agama dan Hak-hak asasi Manusia


Jika banyak orang menganggap bahwa agama merupakan sesuatu yang bukan saja menjadi perekat antara suatu komunitas dunia pada umumnya, tetapi juga berkait erat dengan emosi-emosi di dalam individu dan kelompok, maka dimensi konflik dalam agama adalah sesuatu yang esensial. Andaikan juga agama merupakan suatu "cantelan" bagi penindasan, dan simbolyang menyebabkan mereka berperang, tentu hal ini adalah dinamika tersendiri. Karena itulah, momentum untuk dialog antara dinamika konflik agama dengan realitas sosial perlu diciptakan yang pada akhirnya dapat dipahami secara jelas mengapa agama dapat menjadi "berkat" atau kekuatan HAM, dan memobilisasi kekuatan dari tradisi-tradisi agama yang mengasihi, menjunjung martabat manusia dan keadilan.

Mereka telah salah menginterpretasikan ajaran agama. Tak ada ajaran agama yang menganjurkan kekerasan terhadap kelompok dan agama lain. Itu prinsip yang sangat jelas. Jadi, bila ada terorisme terhadap Barat oleh kelompok teroris Islam, itu bukanlah mewakili Islam. Nabi Muhammad tak pernah menyuruh umat Islam melakukan teror. Begitu juga aksi pembantaian etnis Bosnia di Semenanjung Balkan. Pembunuhan tersebut tak bisa disebut sebagai aksi penganut Kristen. Nabi Isa adalah orang suci yang tak pernah menganjurkan kekerasan. Isa adalah seorang yang memiliki cinta kasih yang mendalam. Bahkan pembantaian bangsa Palestina oleh Israel bukanlah sifat sejati umat Yahudi. Nabi Musa selalu menyuruh ke arah perdamaian.

Sesuai dengan tujuan buku ini, “HAM” dipahami sebagai serangkaian hak-hak yang diartikulasikan dalam 30 pasal Deklarasi Universal HAM,suatu pernyataan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan perjanjian-perjanjian internasional yang di proklamasikan oleh PBB pada tahun 1948.
Perjanjian-perjanjian tersebut meliputi dua Kovenan internasional tentang HAM yang di adopsi oleh PBB pada tahun 1966 dan di sahkan secara resmi dalam bentuk deklarasi

Dalam mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu agama, seseorang tidak akan dapat menghindari adanya perbedaan yang nyata antara agama per se dan ilmu agama. Namun ia juga tidak dapat melupakan adanya hubungan yang erat antara keduanya sebab beberapa nilai dasar agama seperti menghargai dan melindungi Hak Asasi Agama (HAM), keadilan, kemanusiaan, kemaslahatan umum dan lain sebagainya adalah bersifat integral dengan nilai-nilai non-agama. Ini artinya bahwa sebuah argumentasi tentang HAM umpamanya harus menggabungkan antara argumentasi yang rasional dan religious. Sebuah argumentasi yang murni religious –yaitu yang hanya berdasarkan pada text-text agama saja- hanya akan berakhir pada tautology. Untuk itu, mempertimbangkan kaidah-kaidah rasional dalam mengutarakan berbagai argumentasi tentang berbagai macam persoalan –sekalipun persoalan itu bersifat religious- adalah suatu keniscayaan. Adalah rasio –bukan agama- yang mendefinisikan kebenaran, keadilan, kemanusian dan nilai-nilai agama lainnya. Mungkin ini sedikit bersifat paradox; bagaimana nilai-nilai agama ditentukan oleh rasio dan bukan oleh agama sendiri.


Agama hanya concern kepada nilai-nilai yang bersifat universal saja, sedang pemahaman, penafsiran dan aplikasi nilai-nilai universal itu murni menjadi hak prerogatif rasio. Dalam soal penegakan HAM, ini berarti bahwa rasio-lah yang memiliki wewenang untuk melakukannya. Bahwa agama peduli terhadap penegakan HAM adalah benar, namun pra-kondisi terhadap terwujudnya hal itu berupa terciptanya kondisi yang kondusif di mana HAM dapat ditegakkan, adalah tugas rasio untuk melakukannya.
Dalam ungkapan lain, nilai-nilai Islam yang universal harus diolah terlebih dahulu melalui proses historisasi sebelum diaplikasikan. Sejak dulu, para tokoh Islam telah melakukan proses historisasi ini tidak hanya terhadap nilai-nilai universal saja tapi juga terhadap hukum-hukum agama sekalipun. Contoh hukum agama yang telah dihistorisasi oleh para tokoh pemikir agama adalah masalah perbudakan. Islam tidak pernah melarang perbudakan padahal perbudakan nyata-nyata melanggar dan bertentangan dengan hak asasi manusia yang paling mendasar. Sekelompok besar pemikir Islam menolak perbudakan, namun dalam rangka mengakomodir pandangan al-Qur’an, mereka melakukan proses historisasi terhadap text Kitab Suci itu yang kemudian menghasilkan sebuah pemahaman bahwa perbudakan diperbolehkan hanya pada fase sejarah tertentu saja sedang pada fase lain, tidak diperbolehkan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang paling mendasar tentang persamaan status manusia.
Dalam kerangka ini pemahaman tentang penegakan HAM dalam Islam haruslah dilandasi oleh semangat untuk menterjemahkan ajaran-ajaran al-Qur’an sesuai dengan semangat zaman yang terus berkembang. Harus diakui bahwa banyak di dalam al-Qur’an statemen-statemen mengenai persamaan hak yang harus dipahami secara lebih jeli. Jika kebanyakan pemikir Muslim terdahulu memandang seorang non-Muslim umpamanya, memiliki hak secondary sebagai ahl al-zimmah dalam sebuah Negara Islam, maka pemikir Muslim kontemporer seperti Fahmi Huwaidi tidak demikian. Baginya, hak semua warga dalam sebuah negara adalah sama terlepas dari agama yang dianutnya. Pandangan seperti ini sulit ditemui dalam literatur Islam kuno yang rata-rata memposisikan non-Muslim secara diskriminatif sebagai warga negara kelas dua dengan hak-hak yang terbatas dan kewajiban yang lebih berat.
Perlu digarisbawahi bahwa sebenarnya masalah HAM bukanlah persoalan yang berada dalam ranah Syari’ah, tapi berada di bawah payung filsafat. Ini penting untuk disebutkan karena akan membawa implikasi pada cara pandang kita tentang HAM dalam Islam. Jika kita mengatakan masalah HAM berada di dalam ranah Syari’ah, maka implikasinya adalah bahwa kita tidak akan lagi memandang masalah itu sebagai persoalan spekulatif namun sudah merupakan masalah “iya” dan “tidak”, “boleh” dan “tidak boleh”. Padalah seperti persoalan-persoalan yang serupa termasuk objektifitas nilai-nilai etika, masalah kebebasan, keberadaan Tuhan, dan kenabian, masalah HAM berada di luar domain agama, walau –sekali lagi- HAM pada dirinya merupakan nilai yang bersifat religious. Apakah seseorang akan setuju dengan pandangan ini atau tidak, yang jelas diskursus pemikiran Islam kontemporer –berbeda dengan klasik- tentang HAM dan berbagai persoalan yang serupa berada dalam wilayah extra-religious dan bukan intra-religious.
Kebenaran agama tidak hanya diukur secara metafisik dan teologis, tapi juga secara sosial, logis dan etis. Jika selama ini kesempurnaan Islam hanya dipahami dari sudut pandang metafisik dan teologis, maka sejatinya kesempurnaan Islam itu juga terletak pada sisi social, logis dan etis. Itulah sebabnya belakang ini pemahaman Islam lebih banyak dititik beratikan pada ketiga aspek terakhir itu, dan bukan pada dua aspek pertama. Bukan karena aspek metafisik dan teologis tidak lagi relefan, tapi karena dimensi sosial dan sebagainya lebih menentukan apakah sebuah agama dalam era moderen ini mampu memperlihatkan dinamikanya apa tidak.
Sebuah masyarakat yang mengaku mengenal dan berpegang pada nilai-nilai agama haruslah sadar bahwa untuk memelihara dimensi “dalam” dan “luar” agama yang mereka anut, mereka harus melakukan upaya-upaya kongkret menyuguhkan agama itu dalam bentuk yang damai dan sejuk. Masyarakat agama –karena sifatnya yang agamis- sepatutnya tidak puas dengan “kesempurnaan” internal agamanya, tapi juga harus membuktikan kesempurnaan agamanya itu secara empirik, pragmatik, dan praktis. Sesungguhnya tidak ada salahnya jika kita katakan bahwa kebenaran –dan tidak hanya kesempurnaan- sebuah agama tergantung pada kemampuannya menterjemahkan ajaran-ajarannya ke dalam kontek sosial. Hampir semua masyarakat bersifat multi-ethnik, multi-religious dan seterusnya. Agama dituntut untuk memahami karakter ini dan kemudian merumuskan langkah-langkah strategik dalam rangka mengimplementasikan ajaran-ajarannya sesuai dengan kondisi sosial itu. Menghargai ciri khas sebuah entitas sosial, dan melindungi hak-hak asasi manusia yang ada di dalamnya merupakan inti dari ajaran agama yang tidak hanya akan menjamin kestabilan sebuah masyarakat, tapi juga akan mempertahankan karakter religiositasnya. Jika sebagian orang berasusmi bahwa keutuhan dan “keselamatan” sebuah agama hanya dapat dipertahankan melalui formalisasi ajarannya, maka sejatinya hal itu merupakan upaya mereduksi agama yang jauh lebih luas dari sekedar formalisasi.
Sebagai poin terakhir, saya ingin mengatakan bahwa belakangan ini ada semacam asumsi bahwa sensitifitas terhadap isu HAM merupakan ketertundukan terhadap liberalisme relatifistik. Ini asumsi yang tidak benar dan muncul semata-mata karena pemahaman yang salah terhadap liberalisme relatifistik. Pada sisi lain, ini justru merupakan pelecehan terhadap agama karena merupakan pengakuan terhadap peran penting liberalisme relatifistik –dan penolakan terhadap peran agama- dalam hal penegakan HAM.
Memang benar, bahwa HAM dalam bentuk dan formatnya yang moderen diformulasikan oleh para tokoh Enlightenment yang liberal tanpa adanya keterikatan apapun terhadap agama, keyakinan kepada Tuhan, atau pengakuan terhadap agama sebagai sumber kebenaran dan pembenaran. Benar pula bahwa pemikir agama terlalu terlambat merespon isu HAM yang diusung oleh para tokoh Enlightenment ini. Namun harus pula diingat bahwa keterlambatan para pemikir agama bukan tanpa sebab. Setidaknya ada dua sebab kenapa itu terjadi. Pertama, karena para pemikir agama merasa bahwa mereka sudah memiliki khazanah pemikiran yang cukup mengenai etika, hak asasi manusia, dan sejenisnya sehingga tidak perlu adanya pengayaan lebih lanjut. Akibatnya, para pemikir agama tidak terpanggil untuk bergabung dengan pemikir Barat dalam rangka urun rembuk membahas masalah HAM dan yang sejenisnya.
Kedua, karena bahasa agama dan bahasa hukum agama adalah bahasa kewajiban, dan bukan bahasa hak. Akibatnya, kaum beragama tidak terlalu peduli pada hak ketimbang pada kewajiban. Mereka lebih memperhatikan perintah agama dari pada apa yang dapat mereka peroleh dari agama sebagai hak. Lebih tepatnya lagi, kaum beragama lebih tertarik untuk menjalankan kewajiban agama dalam rangka mencari hak ketimbang sebaliknya.
Ini semua bukan berarti bahwa agama adalah anti dan bertentangan dengan konsep moderen tentang HAM. Justru sebaliknya, ini merupakan masukan bagi mazhab-mazhab pemikiran Barat seperti liberalisme yang justru selama ini memonopoli diskursus tentang HAM, sebuah diskursus yang secara politis praktis banyak diterjemahkan dalam sebuah pesta disebut demokrasi.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...